Modal Asing Masuk Rp19,02 Triliun Usai Kenaikan BI-Rate

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:01:31 WIB
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti. (Foto: NET)

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa aliran modal asing (foreign inflows) yang masuk ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) menembus angka Rp19,02 triliun selama periode 10 hingga 11 Juni 2026, tepatnya setelah suku bunga acuan BI-Rate naik ke level 5,50 persen.

Secara spesifik, aliran masuk dana dari nonresiden ke SRBI tercatat mencapai Rp15,11 triliun, sementara pada SBN sebesar Rp3,91 triliun.

“Pascakenaikan BI-Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik,” ujar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Selain itu, Destry menyampaikan adanya aliran masuk modal asing pada obligasi internasional Danantara yang mencatatkan penjualan perdana sebesar Rp26,9 triliun. 

“Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” ucapnya.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (12/6) ditutup di kisaran Rp17.865-17.875 per dolar AS, menguat 0,84 persen dari penutupan 5 Juni 2026 di level Rp18.010-18.020 per dolar AS. Destry menilai penguatan ini adalah cerminan dari respons positif pasar atas bauran kebijakan bank sentral.

Kebijakan tersebut mencakup kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, penguatan struktur suku bunga SRBI, pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing. 

“Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah,” tambah Destry.

Ketahanan eksternal pun ditingkatkan melalui kerja sama keuangan antara BI, People's Bank of China (PBOC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA). 

Terdapat tiga poin utama yang disepakati, yakni sinergi penguatan ketahanan keuangan negara serta stabilitas keuangan regional, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), dan komitmen penggunaan mata uang lokal melalui perluasan Local Currency Transactions (LCT).

Langkah tersebut diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menjaga stabilitas rupiah. Destry menegaskan bahwa BI berkomitmen untuk terus berada di pasar, mengoptimalkan instrumen kebijakan secara konsisten, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

“Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya,” tutup Destry.

Terkini