Percepat Pembangunan, Mentan Amran Targetkan Pesta Panen di Papua

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:16:02 WIB
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memusatkan perhatian pada upaya merealisasikan pesta panen di Papua melalui percepatan pembangunan sektor pertanian, alokasi anggaran terbesar yang pernah ada, serta peningkatan produksi pangan di daerah tersebut.

"Pesta panen seluruh dari Sabang sampai Merauke, dan kami fokuskan pesta panen di tanah Papua, tanah Papua," kata Mentan sebagaimana pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan saat menanggapi polemik pembangunan pertanian di Papua, khususnya yang dikaitkan dengan kehadiran film "Pesta Babi". 

Mentan Amran menekankan bahwa prioritas pemerintah adalah menciptakan kesejahteraan bagi warga melalui peningkatan hasil pangan serta pendapatan petani.

"Alangkah indahnya kalau pesta babi kami ubah menjadi pesta panen. Anggaran Rp5 triliun ini seluruhnya untuk rakyat. Cetak sawah, bantuan kopi, kakao, pala, kelapa, sagu, ubi dan komoditas lainnya semuanya untuk masyarakat di tanahnya sendiri," ucap Amran.

Ia menambahkan, dampak pembangunan pertanian sudah mulai dirasakan. Harga beras yang sebelumnya sempat menyentuh angka Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram di sejumlah wilayah Papua, kini mulai menurun dan berangsur mendekati harga di tingkat nasional.

"Kami ingin saudara-saudara kami di Papua menikmati harga pangan yang sama dengan masyarakat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Karena itu fokus kami adalah mewujudkan pesta panen di seluruh Tanah Papua," bebernya.

Sebelumnya, Mentan Amran menggelar Rapat Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua 2026 yang melibatkan para gubernur, bupati, kepala dinas, penyuluh, serta petani se-Papua di Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (11/6/2026). 

Menurut Amran, forum ini bertujuan untuk menyerap kebutuhan dan aspirasi daerah guna mengakselerasi pembangunan pertanian sesuai arahan Presiden Republik Indonesia.

"Kami sudah berdiskusi mengenai kebutuhan sektor pertanian dan apa saja yang diusulkan daerah, lalu kami sesuaikan dengan anggaran yang tersedia di Kementerian Pertanian," ujar Mentan Amran.

Ia menjelaskan bahwa optimalisasi anggaran pemerintah diarahkan untuk memperkuat sektor pertanian di berbagai penjuru Indonesia, termasuk Papua. Selama 2025 hingga 2026, total dukungan anggaran sektor pertanian untuk Papua mencapai angka sekitar Rp5 triliun.

"Anggaran yang kami berikan untuk Papua mencapai sekitar Rp5 triliun. Ini merupakan anggaran sektor pertanian tertinggi sepanjang sejarah untuk Papua. Semua ini atas arahan Bapak Presiden agar Papua, Kalimantan, dan Sumatera semakin mandiri pangan dan mandiri energi ke depan," katanya.

Mentan menambahkan bahwa pemerintah berupaya memastikan harga pangan di Papua lebih terjangkau dan setara dengan wilayah lain. Oleh karena itu, berbagai komoditas strategis seperti padi, jagung, kopi, kakao, pala, sagu, ubi jalar, hingga singkong masuk ke dalam program pengembangan.

"Kami menanyakan langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat Papua. Mulai dari padi, jagung, kopi, kakao, pala, sagu, ubi jalar, hingga singkong akan kami programkan untuk saudara-saudara kami di Papua," ujarnya.

Dalam rapat tersebut, para kepala daerah mengajukan dukungan tambahan, seperti perluasan areal tanam, cetak sawah, irigasi, traktor, dan sarana produksi lainnya. Mentan Amran menyebutkan sekitar 90 persen usulan tersebut telah disetujui untuk segera ditindaklanjuti.

"Hampir 90 persen permintaan hari ini kami penuhi. Jika progresnya bagus, maka bisa mencapai 100 persen. Bahkan hari ini saya sudah meminta seluruh jajaran direktorat jenderal agar tambahan bantuan yang diajukan segera dilaksanakan secepat-cepatnya," tegasnya.

Terkait program cetak sawah, Mentan Amran memaparkan bahwa total luas lahan yang dikembangkan di Papua sepanjang 2025-2026 mencapai sekitar 80 ribu hektare, dengan sebagian lahan kini menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan.

"Kurang lebih 30 ribu hektare berasal dari program tahun lalu dan sekitar 50 ribu hektare tahun ini. Produktivitas yang sebelumnya sekitar 3 ton per hektare kini bisa meningkat menjadi 5 hingga 7 ton per hektare," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh pengembangan pertanian di Papua akan berbasis pada sistem mekanisasi modern. Pemerintah berkomitmen menyalurkan ratusan traktor dan alat mesin pertanian untuk mendukung pengelolaan lahan dalam skala besar.

"Kalau hamparannya puluhan ribu bahkan ratusan ribu hektare, tidak mungkin dikerjakan secara manual. Karena itu setiap program cetak sawah akan langsung diikuti dengan bantuan alat dan mesin pertanian modern," katanya.

Terkini