Harga CPO Dunia Diprediksi Naik Seiring Lonjakan Permintaan Biodiesel

Sabtu, 04 April 2026 | 09:38:56 WIB
Harga CPO Dunia Diprediksi Naik Seiring Lonjakan Permintaan Biodiesel

JAKARTA - Dalam beberapa bulan ke depan, harga crude palm oil (CPO) diprediksi terus mengalami penguatan seiring meningkatnya permintaan biodiesel di pasar global.

Lembaga kajian industri sawit, Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), menilai kondisi industri kelapa sawit Indonesia pada triwulan kedua 2026 akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kondisi tersebut tidak lepas dari dinamika geopolitik dunia yang memengaruhi pasar energi global.

“Terutama didorong oleh kenaikan harga energi global di tengah meningkatnya eskalasi perang yang melibatkan Iran vs Amerika Serikat-Israel,” sebagaimana dikutip dari keterangan resmi IPOSS.

Analisis tersebut tercantum dalam laporan Outlook Industri Sawit Indonesia Q2 2026 yang menggambarkan potensi kenaikan harga CPO di pasar internasional serta dampaknya terhadap pasar domestik.

Dinamika Geopolitik Dorong Kenaikan Harga Energi

Menurut analisis Indonesia Palm Oil Strategic Studies, konflik geopolitik yang melibatkan Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel menjadi salah satu faktor utama yang memicu kenaikan harga energi global.

Ketegangan tersebut membuat pasar energi dunia mengalami volatilitas yang cukup tinggi, terutama pada komoditas minyak mentah. Dampak dari kondisi ini turut dirasakan oleh pasar komoditas lain yang memiliki keterkaitan dengan sektor energi, termasuk minyak sawit mentah.

Dalam laporan tersebut, IPOSS memproyeksikan harga CPO di pasar global akan mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa bulan ke depan.

Pada Maret 2026, harga CPO tercatat berada di level sekitar 1.165 dollar Amerika Serikat per ton. Namun pada April, harga diperkirakan meningkat menjadi sekitar 1.440 dollar Amerika Serikat per ton.

Tren kenaikan tersebut diprediksi masih akan berlanjut hingga Mei dan Juni. Bahkan IPOSS memperkirakan harga CPO dapat mencapai sekitar 1.701 dollar Amerika Serikat per ton pada Mei.

“Diperkirakan mencapai sekitar 1.783 dollar AS per ton pada Juni 2026,” dikutip dari IPOSS.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak sawit semakin sensitif terhadap perkembangan kondisi geopolitik dan perubahan harga energi global.

Hubungan Erat Pasar Energi Dan Minyak Sawit

IPOSS menilai bahwa lonjakan harga CPO tidak semata-mata disebabkan oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah semakin eratnya hubungan antara pasar energi global dan komoditas minyak sawit.

Dalam beberapa tahun terakhir, minyak sawit tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan atau bahan baku industri, tetapi juga sebagai sumber energi alternatif.

Kenaikan harga minyak mentah dunia turut memengaruhi harga CPO karena minyak sawit menjadi salah satu bahan baku utama biodiesel yang dapat menggantikan bahan bakar fosil.

“Ketika harga minyak mentah meningkat, biodiesel menjadi relatif lebih kompetitif dibandingkan dengan bahan bakar fosil, sementara biaya logistik, distribusi, dan premi risiko global juga ikut naik,” menurut IPOSS.

Dengan kondisi tersebut, permintaan terhadap minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel ikut meningkat. Hal ini kemudian mendorong kenaikan harga CPO di pasar global.

Di tengah ancaman krisis energi dunia, CPO kini tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas pangan dan industri.

“Memiliki fungsi strategis dalam sistem energi,” tulis IPOSS.

Perubahan peran tersebut membuat minyak sawit semakin penting dalam rantai pasok energi global, terutama bagi negara-negara yang mengembangkan energi berbasis biodiesel.

Dampak Kenaikan Harga Terhadap Pasar Domestik

Kenaikan harga CPO di pasar internasional diproyeksikan akan memberikan dampak langsung terhadap harga di pasar domestik. Meskipun harga CPO di dalam negeri tidak sepenuhnya ditentukan oleh pasar global, pergerakan harga internasional tetap memiliki pengaruh yang signifikan.

Selain itu, sejumlah kebijakan domestik juga turut memengaruhi harga di dalam negeri, seperti Harga Referensi, Bea Keluar, serta Pungutan Ekspor. IPOSS memperkirakan harga CPO di pasar domestik yang berada di level Rp 15.065 per kilogram pada Maret akan mengalami kenaikan pada bulan berikutnya.

Harga tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp 18.776 per kilogram pada April 2026.

“Versi draf sebelumnya juga terlihat tren penguatan lanjutan hingga Mei–Juni, yang menegaskan bahwa tekanan harga global berpotensi memberi efek nyata pada pasar domestik,” tulis IPOSS.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar CPO Indonesia tetap memiliki keterkaitan kuat dengan dinamika perdagangan global.

Produksi Dan Ekspor Sawit Diperkirakan Menurun

Selain faktor geopolitik dan energi, kondisi pasokan juga menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan harga minyak sawit.

Dalam laporan Outlook Sawit Q2 2026, IPOSS memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia pada periode tersebut akan mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Produksi CPO dan Crude Palm Kernel Oil (CPKO) hingga akhir triwulan kedua 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 23,7 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai sekitar 24,0 juta ton.

Di sisi lain, ekspor produk sawit juga diperkirakan mengalami penurunan. Pada Q2 2026, ekspor diproyeksikan berada di angka sekitar 6,70 juta ton, lebih rendah dibandingkan 7,22 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan produksi dan ekspor tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan pasokan minyak sawit di pasar global relatif lebih terbatas.

Kondisi tersebut membuat harga CPO menjadi lebih sensitif terhadap berbagai perubahan eksternal, baik yang berasal dari faktor geopolitik maupun pergerakan harga energi dunia.

“Terbentuk dalam konteks ruang pasok yang cenderung lebih terbatas dan pasar yang lebih sensitif terhadap perubahan eksternal,” tulis IPOSS.

Dengan berbagai faktor tersebut, prospek harga minyak sawit mentah dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan masih akan berada dalam tren penguatan, seiring meningkatnya kebutuhan biodiesel global dan dinamika pasar energi dunia.

Terkini