Vale Indonesia Targetkan Pabrik HPAL Pomalaa dan Morowali Selesai 2026

Selasa, 03 Maret 2026 | 11:15:21 WIB
Vale Indonesia Targetkan Pabrik HPAL Pomalaa dan Morowali Selesai 2026

JAKARTA - PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mengungkapkan bahwa mereka berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan dua pabrik pengolahan nikel High-Pressure Acid Leaching (HPAL) yang sedang dibangun di Pomalaa, Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng).

 Kedua pabrik ini adalah bagian dari proyek ambisius Indonesia Growth Project (IGP), yang bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam industri nikel global, khususnya untuk mendukung sektor kendaraan listrik (EV) yang semakin berkembang.

Pabrik HPAL di Pomalaa dijadwalkan selesai pada akhir tahun ini, sementara pabrik di Morowali juga diharapkan dapat rampung dalam waktu yang sama. Namun, jika terdapat penundaan pada proyek Morowali, Vale menargetkan bahwa pabrik ini akan selesai paling lambat pada 2027. 

Endra Kusuma, Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, menjelaskan bahwa proyek ini telah dimulai sejak 2022 dan sekarang sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Proyek Indonesia Growth Project dan Kerja Sama dengan Mitra Internasional

Proyek pembangunan pabrik pengolahan HPAL di Pomalaa dan Morowali merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) yang telah menjadi fokus utama Vale Indonesia sejak beberapa tahun lalu. 

Di Pomalaa, proyek tambang dan pabrik pengolahan nikel ini memiliki total investasi sebesar USD 4,43 miliar. 

Pembangunannya melibatkan kemitraan dengan produsen baterai kendaraan listrik asal China, Huayou, serta produsen mobil ternama asal Amerika Serikat, Ford. 

Kemitraan ini menjadi bukti komitmen Vale Indonesia untuk mendukung industri kendaraan listrik dan energi terbarukan, yang kini menjadi salah satu sektor yang paling diminati di dunia.

Progres pembangunan pabrik HPAL di Pomalaa saat ini sudah mencapai 65,76%, yang menunjukkan kemajuan yang cukup pesat. Meskipun demikian, Vale sudah mulai melakukan penjualan bijih mineral, dengan pengiriman pertama (first ore sell) yang telah dilaksanakan pada 28 Februari 2026. 

Vale menargetkan produksi sebesar 300.000 ton limonit per bulan, atau sekitar 9.677 ton per hari, yang diharapkan dapat mencukupi kebutuhan bahan baku untuk produksi baterai kendaraan listrik yang terus meningkat.

Manfaat Pengolahan Nikel untuk Industri Kendaraan Listrik

Jika pabrik HPAL Pomalaa dan Morowali selesai dan beroperasi sesuai jadwal, produk utama yang dihasilkan akan berupa mixed hydroxide precipitate (MHP). MHP ini adalah bahan baku yang sangat penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik (EV). 

Sebagai salah satu komoditas utama untuk produksi baterai, nikel memainkan peran vital dalam mendukung transisi global menuju kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Endra Kusuma menjelaskan bahwa produksi MHP dari pabrik-pabrik ini tidak hanya akan memenuhi kebutuhan pasar domestik tetapi juga dapat diekspor untuk mendukung industri baterai kendaraan listrik di seluruh dunia. 

Dengan semakin tingginya permintaan terhadap kendaraan listrik, pasar untuk nikel yang digunakan dalam baterai diperkirakan akan terus berkembang. 

Ini memberi harapan bagi Indonesia, sebagai salah satu negara penghasil nikel terbesar di dunia, untuk meningkatkan kontribusinya dalam industri kendaraan listrik global.

Progres Pabrik HPAL Morowali dan Reklamasi Lahan Bekas Tambang

Sementara itu, proyek IGP Morowali, yang juga merupakan bagian dari proyek besar Vale Indonesia, sudah mencapai kemajuan yang hampir selesai. Progres pembangunan untuk proyek ini tercatat sudah mencapai 98,85%. 

Pabrik di Morowali memiliki investasi sebesar USD 2 miliar, dan bertujuan untuk mengolah nikel menjadi produk setengah jadi yang dibutuhkan untuk pengembangan industri kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Di Morowali, Vale juga mencatatkan penjualan sebanyak 2,2 juta ton bijih nikel pada awal 2026. Selain itu, mereka juga telah melaksanakan program reklamasi lingkungan untuk mengurangi dampak dari kegiatan penambangan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah hydroseeding seluas 26 hektar yang bertujuan untuk memulihkan lahan bekas tambang. 

Vale juga meresmikan lokasi pembibitan yang memiliki kapasitas 400.000 bibit per tahun sebagai bagian dari komitmennya terhadap keberlanjutan dan pemulihan lingkungan.

Rencana Pengembangan Lebih Lanjut dalam Industri Nikel Indonesia

Dengan selesainya kedua proyek HPAL di Pomalaa dan Morowali, Vale Indonesia akan semakin memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam industri pengolahan nikel di Indonesia. 

Kedua proyek ini, yang juga melibatkan kemitraan strategis dengan perusahaan internasional, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. 

Selain itu, pengolahan nikel untuk kebutuhan industri kendaraan listrik dan energi terbarukan menjadi langkah penting dalam mendukung pencapaian target Indonesia untuk menjadi pusat produksi energi bersih di Asia Tenggara.

Proyek ini juga menunjukkan komitmen Vale Indonesia dalam memperhatikan aspek keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Dengan program reklamasi dan pemulihan lingkungan yang terus diperkuat, Vale berusaha memastikan bahwa kegiatan tambang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.

Terkini