ABB Dorong Investasi SDM Untuk Pengembangan Teknologi Otomatisasi Nasional

Kamis, 26 Februari 2026 | 08:38:17 WIB
ABB Dorong Investasi SDM Untuk Pengembangan Teknologi Otomatisasi Nasional

JAKARTA - Dunia industri Indonesia kian memasuki fase transformasi berbasis teknologi otomatisasi dan transisi energi hijau. Di tengah kebutuhan percepatan tersebut, investasi tidak lagi semata soal pembangunan pabrik atau pengadaan mesin berteknologi tinggi. 

Kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi utama agar adopsi teknologi berjalan efektif dan berkelanjutan.

Bagi perusahaan teknologi global, kesiapan SDM lokal menentukan keberhasilan implementasi solusi otomatisasi di lapangan. Tanpa kompetensi yang memadai, teknologi canggih berisiko tidak optimal dimanfaatkan oleh pelaku industri. 

Karena itu, investasi pada manusia dipandang sebagai strategi jangka panjang yang berdampak langsung pada kualitas layanan, efisiensi operasional, hingga daya saing industri nasional.

Pendekatan ini juga selaras dengan arah transisi energi yang menuntut keahlian lintas disiplin. Kebutuhan akan tenaga kerja terampil di bidang otomasi, digitalisasi, dan pengelolaan infrastruktur energi hijau menjadi semakin mendesak. 

Kolaborasi lintas pemangku kepentingan pun menjadi kunci agar penguatan kapasitas SDM dapat berlangsung merata dan berkelanjutan.

Peran SDM Dalam Ekosistem Otomatisasi

Perusahaan teknologi internasional ABB menilai peningkatan kompetensi sumber daya manusia Indonesia merupakan investasi utama dalam pengembangan teknologi otomatisasi bagi industri dan transisi energi hijau. Pandangan ini menempatkan manusia sebagai pusat dari ekosistem transformasi digital yang tengah berlangsung di berbagai sektor industri.

“Terkait dengan otomatisasi, investasi yang ditanamkan oleh ABB antara lain pada SDM. Tentunya dengan harapan agar dapat meningkatkan kualitas layanan yang disediakan bagi para pelaku industri,” kata Vice President Divisi Energy Industries ABB.

Investasi pada SDM dipandang mampu mempercepat adaptasi industri terhadap teknologi baru. Tenaga kerja yang terampil tidak hanya mempercepat implementasi sistem otomatisasi, tetapi juga memastikan proses operasional berjalan aman, efisien, dan sesuai standar. Dengan demikian, kualitas layanan kepada pelanggan industri dapat meningkat seiring peningkatan kompetensi tenaga profesional di lapangan.

Selain itu, penguatan SDM berkontribusi pada terbentuknya ekosistem industri yang lebih tangguh. Keahlian lokal yang berkembang akan mengurangi ketergantungan pada tenaga ahli dari luar negeri, sekaligus mendorong transfer pengetahuan dan inovasi yang lebih luas di dalam negeri.

Kolaborasi Lintas Industri Dan Pemangku Kepentingan

Pengembangan kompetensi SDM tidak dapat dilepaskan dari kerja sama berbagai pihak. Menurut Harikumar, kolaborasi antara perusahaan teknologi, pelaku industri, pemerintah, hingga akademisi menjadi prasyarat agar investasi pada manusia benar-benar memberikan dampak nyata bagi transformasi industri.

“Kita sangat terbuka untuk kolaborasi dengan pemain industri. Karena pada akhirnya, jika kita bicara tentang otomatisasi atau transisi energi, kita tidak bisa bekerja sendirian. Ini harus dilakukan oleh semua pemain industri,” ujar dia.

Kolaborasi lintas sektor memungkinkan terbangunnya ekosistem pembelajaran yang saling menguatkan. Industri dapat menyampaikan kebutuhan riil di lapangan, sementara lembaga pendidikan menyiapkan kurikulum yang relevan dengan perkembangan teknologi. Pemerintah berperan memastikan kebijakan dan regulasi mendukung pengembangan kompetensi tenaga kerja secara berkelanjutan.

Sinergi tersebut juga membuka ruang bagi pertukaran praktik terbaik antarindustri. Melalui kerja sama, inovasi dapat dipercepat, adopsi teknologi menjadi lebih terarah, dan hambatan implementasi di lapangan bisa diminimalkan. 

Dalam jangka panjang, kolaborasi lintas pemangku kepentingan akan memperkuat daya saing industri nasional di tengah persaingan global.

Makna Investasi Di Luar Pembangunan Fisik

Harikumar menilai saat ini bentuk investasi semakin luas, tidak hanya terbatas pada pembangunan pabrik atau fasilitas produksi. Investasi pada manusia, proses, dan kemitraan strategis menjadi bagian penting dari strategi perusahaan teknologi dalam memperkuat kehadiran di pasar.

“Investasi, tentu ada berbagai macam wujud dari investasi tersebut. Seperti misalnya pendirian pabrik dan lainnya. Untuk ABB sendiri, kami kebetulan sudah punya usaha patungan atau joint venture. Kami juga melibatkan pabrik yang sudah saat ini memproduksi berbagai peralatan, tapi memang bukan berfokus pada otomatisasi,” jelasnya.

Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma investasi di sektor teknologi. Keberadaan fasilitas produksi tetap penting, tetapi penguatan kapasitas SDM dan jaringan kemitraan dinilai lebih strategis dalam menjawab tantangan transformasi industri. Investasi nonfisik ini memungkinkan perusahaan lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan perkembangan teknologi.

Dengan memperluas makna investasi, perusahaan dapat menciptakan nilai tambah yang lebih berkelanjutan. Penguatan kapasitas lokal melalui kemitraan dan pengembangan kompetensi akan mendorong terbentuknya ekosistem industri yang lebih mandiri, inovatif, dan siap menghadapi tantangan transisi energi.

Keamanan Data Dan Mitigasi Risiko Investasi

Dalam pengembangan teknologi otomatisasi, perlindungan keamanan data menjadi komponen fundamental. Harikumar menekankan bahwa modernisasi infrastruktur dan penguatan sistem keamanan perlu berjalan seiring dengan investasi teknologi untuk mengelola risiko bisnis yang kian kompleks.

“Ini juga (melalui) meningkatkan perlindungan keamanan, dan juga modernisasi infrastruktur pun akan turut membantu mengelola risiko investasi,” kata dia.

Risiko siber dan kerentanan sistem menjadi tantangan yang tak terpisahkan dari transformasi digital. Oleh karena itu, strategi mitigasi risiko tidak dapat dijalankan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar standar keamanan dan tata kelola teknologi dapat diterapkan secara konsisten di seluruh rantai industri.

“Tentunya strategi mitigasi ini tidak akan bisa dijalankan oleh satu pihak saja. Dalam hal ini, ABB misalnya dapat menyediakan teknologi global untuk pasar lokal seperti Indonesia. Dan pada saat yang sama, ABB juga akan menjalin kerja sama dengan akademisi, pemerintah, dan sebagainya,” ujar Harikumar.

Dengan pendekatan kolaboratif, penguatan keamanan data dan mitigasi risiko diharapkan mampu menopang keberlanjutan investasi teknologi otomatisasi. Hal ini sekaligus memastikan bahwa transformasi industri dan transisi energi hijau dapat berjalan dengan aman, efisien, serta memberi manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional.

Terkini

Geliat Akuisisi Emiten Awal 2026 Dari BABY Sampai PTRO

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:12:36 WIB

Ekspansi Fore Buka 100 Gerai Kopi Dan Donut 2026

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:12:30 WIB

Jadwal Lengkap KA Prameks Jogja - Kutoarjo 26 Februari 2026

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:12:29 WIB

Jadwal Lengkap KA YIA Xpress Tugu Bandara 26 Februari 2026

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:12:25 WIB