Geoprima Solusi Catatkan Peningkatan Free Float Serta Akuisisi Besar

Kamis, 12 Februari 2026 | 13:48:42 WIB
Geoprima Solusi Catatkan Peningkatan Free Float Serta Akuisisi Besar

JAKARTA - PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) menunjukkan perkembangan positif pada awal tahun 2026 dengan pencatatan peningkatan jumlah pemegang saham. 

Seiring dengan pertumbuhannya, perusahaan ini memperlihatkan perubahan signifikan dalam struktur kepemilikan saham publik yang jauh melampaui ketentuan batas minimal free float yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Peningkatan ini terjadi di tengah rencana ambisius GPSO untuk mengakuisisi sejumlah entitas strategis, sebuah langkah yang diyakini akan mendorong perusahaan menuju posisi yang lebih kuat di industri.

Meningkatnya Jumlah Pemegang Saham GPSO

Pada laporan registrasi efek Januari 2026, tercatat jumlah pemegang saham GPSO mencapai 4.921 pihak, sebuah lonjakan signifikan dari bulan sebelumnya yang hanya berjumlah 4.506 pihak. 

Dengan adanya penambahan 415 investor dalam satu bulan pertama 2026, perusahaan ini semakin terlihat menarik bagi para investor publik.

Manajemen GPSO pun mengungkapkan bahwa hingga akhir Januari 2026, jumlah saham yang tercatat di bursa mencapai 666,74 juta saham. Dari jumlah tersebut, sebanyak 340,37 juta saham atau sekitar 51,05% dimiliki oleh publik dan termasuk dalam kategori free float. 

Kondisi ini menunjukkan komitmen GPSO untuk memenuhi ketentuan bursa yang mengharuskan perusahaan tercatat memiliki minimal 20% saham yang dimiliki oleh publik. Dengan porsi saham publik yang terus meningkat, GPSO kini semakin terbuka untuk partisipasi investor.

Kepemilikan dan Pemegang Saham Pengendali

Meskipun saham yang dimiliki oleh publik mengalami peningkatan signifikan, pemegang saham pengendali GPSO tetap berada di tangan PIMSF Pulogadung. 

Pemegang saham pengendali ini tercatat memiliki 326,37 juta saham atau 48,95% dari total saham tercatat perusahaan. PIMSF Pulogadung merupakan bagian dari Tjokro Group yang dikenal luas di industri mekanikal.

Selain itu, dilaporkan bahwa penerima manfaat akhir atau ultimate beneficial owner (UBO) atas kepemilikan saham GPSO adalah Kurniawan Eddy Tjokro, yang juga merupakan bagian dari keluarga besar Tjokro Group. 

Dengan adanya pemegang saham pengendali yang solid, perusahaan ini diproyeksikan akan memiliki stabilitas dan daya saing yang lebih kuat di masa depan.

Rencana Akuisisi yang Diharapkan Meningkatkan Nilai Perusahaan

Seiring dengan pertumbuhan jumlah investor dan penguatan posisi saham publik, GPSO juga tengah melangkah maju dengan rencana akuisisi sejumlah aset yang dianggap strategis untuk memperluas bisnis perusahaan. Pada bulan Januari 2026, GPSO telah menandatangani perjanjian akuisisi untuk memperoleh sejumlah aset senilai Rp700 miliar. 

Aset yang akan diambil alih mencakup saham mayoritas di beberapa perusahaan, antara lain PT Pulogadung Tempajaya (PTJ), PT Tjokro Bersaudara Komponenindo (TBK), dan PT Jakarta Marten Logamindo (JML), serta sejumlah aset tanah dan bangunan yang terletak di kawasan industri Jababeka I dan EJIP Bekasi.

Dengan langkah akuisisi ini, GPSO diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan secara signifikan dan mencapainya menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar triliunan rupiah. 

Rencana akuisisi ini diyakini akan memberikan kontribusi besar terhadap ekspansi GPSO di industri parts maker dan property building management di Indonesia. 

Dalam hal ini, Tjokro Group yang sudah lama beroperasi di sektor industri mekanikal diperkirakan akan menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan GPSO di masa depan.

Alternatif Pendanaan untuk Transaksi Akuisisi

Untuk mendanai transaksi akuisisi tersebut, manajemen GPSO sedang mengevaluasi berbagai alternatif sumber pendanaan. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah melalui skema share swap inbreng saham dalam Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD). Selain itu, penggunaan instrumen utang juga sedang dikaji untuk mendukung kelancaran transaksi ini.

Namun, perusahaan menegaskan bahwa seluruh transaksi ini akan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Sebagai bagian dari kewajiban transparansi, GPSO juga akan melibatkan Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) independen untuk menilai kewajaran transaksi. 

Ini dilakukan guna memastikan bahwa semua langkah yang diambil sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh regulator dan tidak akan merugikan pemegang saham.

Strategi Konsolidasi dan Masa Depan GPSO

Mengacu pada perkembangan yang ada, GPSO tengah mempersiapkan konsolidasi aset strategis di bawah Tjokro Group. Rencana ini mencakup integrasi entitas bisnis yang lebih luas, yang akan menjadikan GPSO sebagai induk yang mengelola sektor parts maker dan property building management di Indonesia.

Dengan kekuatan Tjokro Group yang sudah mapan di pasar industri mekanikal, GPSO pun diharapkan dapat menjadi pemain utama yang siap bersaing di level nasional maupun global.

Dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan ini berpotensi untuk memperluas jangkauannya ke sektor-sektor lain yang relevan, sembari memperkuat posisinya di bidang utama yang sedang digelutinya saat ini. Langkah akuisisi yang dilakukan GPSO menjadi salah satu penanda bagi investor bahwa perusahaan ini serius dalam memperbesar kapasitas dan nilai pasar.

Terkini