Aliansi Industri Dorong Percepatan Operasional Pertambangan Berkelanjutan Indonesia

Selasa, 10 Februari 2026 | 12:51:53 WIB
Aliansi Industri Dorong Percepatan Operasional Pertambangan Berkelanjutan Indonesia

JAKARTA - Upaya mendorong praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab terus bergulir di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. 

Di Indonesia, sektor pertambangan memegang peranan strategis dalam perekonomian nasional sekaligus rantai pasok global. 

Namun, besarnya kontribusi tersebut juga diiringi oleh tantangan kompleks yang menuntut pendekatan kolaboratif lintas pemangku kepentingan.

Dalam konteks inilah Lubrizol bersama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) membuka babak baru kerja sama industri melalui penyelenggaraan dialog bertema operasional pertambangan berkelanjutan di Indonesia. 

Forum ini menjadi momentum pengenalan awal Alliance for Sustainable Mining Operations, sebuah inisiatif yang digagas dan dipimpin oleh pelaku industri sebagai wadah kolaborasi jangka panjang.

Dialog tersebut tidak hanya menghadirkan diskusi panel lintas pemangku kepentingan, tetapi juga menandai peluncuran Green Paper yang memetakan area prioritas serta arah strategis untuk mendorong praktik pertambangan yang lebih berkelanjutan. 

Dokumen ini disusun sebagai titik awal diskusi bersama dan tidak dimaksudkan sebagai panduan final, sehingga tetap terbuka terhadap masukan dari mitra industri, regulator, serta pemangku kepentingan lainnya.

Tantangan Keberlanjutan Industri Pertambangan

Sebagai salah satu tulang punggung ekonomi nasional, industri pertambangan Indonesia berperan penting dalam memenuhi kebutuhan bahan baku global. 

Namun, di balik peran strategis tersebut, sektor ini menghadapi tekanan yang semakin besar untuk meningkatkan kinerja lingkungan, efisiensi operasional, keselamatan kerja, serta dampak sosial di sekitar wilayah operasional tambang.

Tantangan utama yang dihadapi industri saat ini bukan lagi terletak pada ketersediaan komitmen atau kebijakan keberlanjutan. Berbagai regulasi dan standar telah tersedia, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

Persoalannya justru berada pada bagaimana menerjemahkan prinsip-prinsip keberlanjutan tersebut ke dalam praktik nyata di lapangan yang sering kali dihadapkan pada kondisi operasional yang beragam dan kompleks.

Perbedaan karakteristik lokasi tambang, infrastruktur pendukung, hingga kesiapan sumber daya manusia membuat implementasi keberlanjutan membutuhkan pendekatan yang adaptif dan kolaboratif. 

Oleh karena itu, diperlukan ruang dialog yang memungkinkan pertukaran perspektif dan pengalaman antar pelaku industri serta pemangku kepentingan terkait.

Aliansi Sebagai Ruang Dialog Industri

Menjawab kebutuhan tersebut, Lubrizol dan VKTR sebagai founding partners menginisiasi Soft Launch Alliance & Dialogue for Sustainable Mining Operations. 

Platform ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang dipimpin oleh industri, dengan melibatkan perwakilan pemerintah dan pelaku usaha, guna memperkuat praktik pertambangan berkelanjutan melalui kolaborasi.

Vice President Asia Pacific Lubrizol, Henry Liu, menegaskan bahwa isu keberlanjutan di sektor pertambangan tidak dapat diselesaikan secara parsial. Menurutnya, tantangan operasional, lingkungan, dan sosial dalam pertambangan saling terkait dan membutuhkan pendekatan yang terintegrasi.

“Pertambangan berkelanjutan melibatkan tantangan operasional, lingkungan, dan sosial yang saling berkaitan. Melalui dialog dan aliansi ini, kami ingin menghadirkan wadah kolaboratif untuk menyatukan pandangan, mengonsolidasikan keahlian lintas pemangku kepentingan, dan mendorong terciptanya ekosistem pertambangan yang lebih terintegrasi serta efisien dalam jangka panjang,” ujarnya.

Aliansi ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara komitmen strategis dan implementasi praktis di lapangan, sekaligus mempercepat adopsi solusi yang relevan dengan kebutuhan industri pertambangan nasional.

Empat Pilar Strategis Kolaborasi

Alliance for Sustainable Mining Operations dirancang sebagai kerangka kolaborasi jangka panjang dengan fokus pada empat pilar utama. Pilar pertama adalah pembangunan kapabilitas, termasuk dukungan terhadap transisi energi yang lebih bersih dalam operasional pertambangan, seperti pemanfaatan biodiesel sebagai bagian dari upaya pengurangan emisi.

Pilar kedua berfokus pada adopsi teknologi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus keselamatan kerja, khususnya pada penggunaan peralatan dan mesin berat. Pemanfaatan teknologi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional tanpa mengesampingkan aspek keselamatan dan keberlanjutan.

Pilar ketiga mencakup penguatan infrastruktur melalui penerapan ilmu material maju. Pendekatan ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi proses kimia, pengolahan air, serta pengelolaan bahan kimia yang menjadi bagian penting dalam operasional pertambangan.

Sementara itu, pilar keempat menitikberatkan pada pengembangan masyarakat, dengan penekanan pada pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. 

Aspek sosial ini dipandang sebagai elemen krusial untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang bagi industri maupun masyarakat di sekitar wilayah tambang.

Keberlanjutan Sebagai Strategi Bisnis

Ke depan, Alliance for Sustainable Mining Operations akan terus berinteraksi dengan para pemangku kepentingan industri untuk mengidentifikasi langkah-langkah konkret yang dapat diimplementasikan. 

Seluruh inisiatif tersebut akan mengacu pada hasil dialog serta peta jalan yang tertuang dalam Green Paper, dengan tujuan menghasilkan dampak yang terukur dan berkelanjutan.

Chief of Corporate Affairs VKTR, Indah Permatasari Saugi, menyoroti adanya pergeseran cara pandang dunia usaha terhadap keberlanjutan. Menurutnya, keberlanjutan kini tidak lagi dilihat semata sebagai beban tambahan, melainkan sebagai bagian integral dari strategi bisnis jangka panjang.

“Selama ini, keberlanjutan sering dipersepsikan sebagai beban tambahan. Kini, semakin banyak pelaku usaha yang melihatnya sebagai bagian integral dari strategi bisnis. Melalui aliansi ini, terdapat peluang untuk memastikan bahwa praktik keberlanjutan tidak hanya ideal secara konsep, tetapi juga relevan, aplikatif, dan selaras dengan dinamika rantai nilai pertambangan,” tuturnya.

Dengan pendekatan kolaboratif yang dipimpin oleh industri, aliansi ini diharapkan mampu menjadi katalis bagi percepatan transformasi pertambangan berkelanjutan di Indonesia, melampaui sekadar wacana menuju implementasi nyata di lapangan.

Terkini