Terapi Baru Atasi Apnea Tidur Ngorok Tanpa Operasi Besar

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:08:59 WIB
Terapi Baru Atasi Apnea Tidur Ngorok Tanpa Operasi Besar

JAKARTA - Gangguan tidur akibat dengkuran selama ini kerap dianggap sepele, padahal di balik suara ngorok yang berulang, bisa tersembunyi masalah serius bernama apnea tidur obstruktif. 

Kondisi ini terjadi ketika saluran napas tersumbat saat seseorang tertidur, menyebabkan aliran udara terhenti dan kualitas tidur menurun drastis. 

Dalam jangka panjang, gangguan tersebut berisiko memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari kelelahan kronis hingga gangguan jantung.

Kabar baik datang dari Australia. Tim peneliti dari Flinders University memperkenalkan pendekatan baru yang menjanjikan untuk menangani apnea tidur obstruktif. 

Inovasi ini menawarkan solusi yang lebih praktis, minim tindakan invasif, dan berpotensi menjangkau lebih banyak pasien yang selama ini kesulitan mendapatkan terapi efektif. Pendekatan tersebut menjadi angin segar di tengah keterbatasan metode konvensional yang masih bergantung pada operasi besar.

Pendekatan Baru Tangani Gangguan Pernapasan Tidur

Apnea tidur obstruktif atau obstructive sleep apnea dikenal sebagai gangguan pernapasan yang muncul akibat penyempitan atau penutupan saluran napas saat tidur. Salah satu terapi yang sudah lama digunakan adalah stimulasi saraf hipoglosus atau hypoglossal nerve stimulation. 

Terapi ini bekerja dengan memberikan pulsa listrik pada saraf yang mengontrol pergerakan lidah, sehingga lidah tidak menutup saluran napas saat tidur.

Namun, selama ini penerapan terapi tersebut masih memiliki banyak keterbatasan. Prosedur HNS konvensional memerlukan operasi untuk menanamkan implan berukuran cukup besar di dalam tubuh pasien.

 Selain tergolong invasif, proses pemasangan juga memakan waktu lama dan tidak selalu memberikan hasil optimal bagi semua penderita apnea tidur obstruktif. Tidak sedikit pasien yang akhirnya dinyatakan tidak cocok menjalani terapi ini.

Melihat kondisi tersebut, peneliti Flinders University berupaya mengembangkan pendekatan baru yang lebih sederhana. Fokus utama pengembangan terletak pada penggunaan elektroda berukuran lebih kecil, sehingga proses pemasangan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan fleksibel. 

Pendekatan ini diharapkan mampu mengatasi berbagai kendala yang selama ini melekat pada terapi HNS konvensional.

Elektroda Mini Jadi Terobosan Penelitian

Dalam studi terbarunya, tim peneliti menguji elektroda HNS berukuran kecil yang dirancang khusus agar dapat dipasang tanpa prosedur operasi besar. 

Elektroda ini memungkinkan stimulasi saraf dilakukan secara lebih presisi, sekaligus mengurangi risiko dan ketidaknyamanan bagi pasien. Uji coba awal pun menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.

Selama proses pengujian, stimulasi dilakukan dalam waktu singkat selama beberapa siklus pernapasan. Hasilnya, elektroda baru tersebut mampu membuka saluran napas pada sebagian besar partisipan yang terlibat dalam penelitian. Bahkan, pada kondisi tertentu, alat ini tetap menunjukkan efektivitas meski pernapasan pasien sempat terhenti sepenuhnya.

Capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa teknologi ini tidak hanya efektif, tetapi juga memiliki potensi penerapan yang lebih luas. 

Dengan ukuran yang lebih kecil dan metode pemasangan yang lebih sederhana, elektroda ini dinilai mampu menjangkau pasien yang sebelumnya tidak memenuhi kriteria terapi HNS konvensional.

Prosedur Singkat Dengan Ketidaknyamanan Minimal

Salah satu keunggulan utama dari pendekatan baru ini adalah durasi prosedur yang relatif singkat. Proses pemasangan elektroda dilakukan dengan panduan ultrasonografi, sehingga dokter dapat memantau secara langsung posisi alat tanpa perlu tindakan bedah besar. Hal ini secara signifikan mengurangi risiko komplikasi.

"Ini adalah prosedur selama 90 menit yang dilakukan dengan panduan ultrasonografi dan hanya menimbulkan ketidaknyamanan minimal," kata ahli THT dari Flinders University, Simon Carney.

Lebih lanjut, Simon Carney menekankan bahwa pendekatan ini membuka peluang baru bagi kelompok pasien yang selama ini kesulitan mendapatkan terapi. "Yang terpenting, kami mampu membuka saluran napas pada pasien yang sebelumnya dianggap tidak cocok untuk HNS," lanjutnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa teknologi ini tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga inklusivitas dalam penanganan apnea tidur obstruktif. Pasien yang sebelumnya tidak memiliki banyak pilihan terapi kini berpotensi mendapatkan solusi yang lebih sesuai dengan kondisi mereka.

Peluang Baru Perawatan Apnea Tidur Obstruktif

Meski masih membutuhkan pengembangan lanjutan sebelum digunakan secara luas, teknologi elektroda HNS mini ini dinilai memiliki prospek besar. 

Prosedur pemasangan yang dapat dilakukan di klinik, tanpa operasi besar di rumah sakit, menjadikan terapi ini lebih efisien dari segi waktu dan biaya.

Selain itu, waktu pemulihan pasien juga diperkirakan jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional. Dengan pendekatan yang minim invasif, pasien dapat kembali beraktivitas lebih cepat tanpa harus menjalani masa rawat inap yang panjang. Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri, baik bagi pasien maupun sistem layanan kesehatan.

Para peneliti juga menilai bahwa terapi ini memiliki potensi untuk disesuaikan secara lebih presisi pada setiap pasien. Dengan pengaturan yang fleksibel, stimulasi saraf dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan individu, sehingga efektivitas terapi diharapkan semakin meningkat.

Saat ini, stimulasi saraf hipoglosus memang sudah terbukti cukup efektif, tetapi belum mampu menjangkau semua penderita apnea tidur obstruktif. 

Melalui pendekatan baru yang lebih sederhana dan adaptif, peluang untuk memperluas akses perawatan menjadi semakin terbuka. Jika pengembangan lanjutan berjalan sesuai harapan, inovasi ini berpotensi mengubah cara dunia medis menangani gangguan tidur akibat ngorok di masa mendatang.

Terkini