Gerakan ASRI Dorong Budaya Bersih Kantor Dukung Program Nasional

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:42:55 WIB
Gerakan ASRI Dorong Budaya Bersih Kantor Dukung Program Nasional

JAKARTA - Budaya kebersihan di lingkungan kerja bukan sekadar rutinitas menjaga kerapian ruang, melainkan cerminan komitmen sebuah institusi terhadap nilai yang ingin dibangun. Dari meja yang tertata hingga pengelolaan sampah yang terencana, setiap detail menghadirkan pesan tentang kesadaran kolektif. 

Dalam kerangka itulah Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri Yusharto Huntoyungo menegaskan pentingnya memulai budaya hidup bersih dari kantor sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program prioritas nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Penegasan tersebut disampaikan Yusharto saat kegiatan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang digelar di lingkungan BSKDN, Jakarta. Ia menilai gerakan ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni simbolik, tetapi harus menjadi awal perubahan perilaku yang berkelanjutan dan berdampak luas.

Kesadaran Yang Tumbuh Dari Kebiasaan Sederhana

Yusharto memandang perubahan besar selalu berangkat dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, penerapan nilai kebersihan harus dimulai dari individu, kemudian menjalar ke keluarga, hingga akhirnya membentuk budaya di tempat kerja.

"Ini (Gerakan ASRI) bukan hanya sekadar kegiatan sesaat. Tetapi menjadi awal untuk kita bisa membangun kebiasaan meningkatkan kesadaran kita untuk bisa berperilaku bersih, mulai dari diri kita sendiri, lingkungan keluarga sampai dengan lingkungan tempat kerja kita," kata Yusharto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Ia menekankan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk memberi teladan kepada masyarakat. Lingkungan yang aman, sehat, resik, dan indah bukan hanya target administratif, tetapi bagian dari kualitas hidup publik yang harus diwujudkan bersama melalui tindakan nyata.

Salah satu fokus utama Gerakan ASRI adalah menekan timbulan serta timbunan sampah. Persoalan sampah dinilai bukan sekadar isu kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan dalam jangka panjang.

Kebersihan Sebagai Wajah Indonesia Di Mata Dunia

Menurut Yusharto, perhatian terhadap kebersihan lingkungan juga menjadi sorotan Presiden Prabowo Subianto. Isu ini berkaitan langsung dengan persepsi masyarakat internasional terhadap Indonesia sebagai sebuah bangsa.

"Presiden mendorong kita untuk berada dalam lingkungan yang lebih bersih dengan mengurangi timbulan dan timbunan sampah. Mengingat banyak kejadian, di antaranya Presiden mendapati informasi kolega beliau di luar negeri mengatakan, kok Indonesia tidak seindah sebagaimana yang diterangkan, ini tentu menjadi pengingat bagi kita semua," ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebersihan bukan semata urusan domestik, tetapi juga menyangkut reputasi bangsa. Oleh sebab itu, perubahan harus dimulai dari institusi pemerintah sebelum meluas ke ruang publik yang lebih luas.

Sinergi Wilayah Untuk Lingkungan Yang Lebih Tertata

Dalam kesempatan yang sama, Yusharto menyoroti pentingnya kolaborasi lintas pihak. Upaya menciptakan lingkungan bersih tidak dapat dilakukan sendirian oleh satu lembaga, melainkan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah pusat dan daerah.

BSKDN, lanjutnya, siap berperan aktif bersama pemerintah kecamatan dan kelurahan untuk menjadikan wilayah kerja di Kecamatan Senen, khususnya Kelurahan Kenari, sebagai kawasan yang lebih bersih dan tertata.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Camat Senen, Lurah Kenari, serta para petugas kebersihan atau Pasukan Oranye yang selama ini menjaga kebersihan lingkungan. Peran mereka dinilai sangat penting dalam memastikan gerakan kebersihan berjalan nyata di lapangan.

Menurutnya, sinergi yang telah terbangun diharapkan terus berlanjut melalui program bersama yang dilakukan secara berkala. Kolaborasi berkelanjutan menjadi kunci agar Gerakan ASRI tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi budaya kerja dan budaya masyarakat.

Tanggung Jawab Menjaga Kawasan Heritage Dan Inovasi Pengelolaan Sampah

Sebagai institusi yang menempati bangunan heritage peninggalan kolonial, BSKDN disebut memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menjaga kebersihan sekaligus kelestarian lingkungan kantor.

"Karena kita berada di kawasan heritage, mestinya perhatian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan ini jauh lebih baik dibandingkan tempat lainnya," katanya.

Ke depan, BSKDN juga membuka peluang penerapan inovasi sederhana dalam pengelolaan sampah. Salah satunya melalui pemanfaatan magot sebagai bagian dari strategi pengurangan timbulan sampah di lingkungan kerja.

"Kita akan coba menilai apakah di tempat kerja kita bisa juga digunakan instalasi pengelolaan sampah sederhana (dengan memanfaatkan magot) menjadi bagian dari gerakan pengurangan himpunan sampah berikut berikut mengurangi timbulan sampah yang ada di BSKDN," tuturnya.

Langkah inovatif ini menunjukkan bahwa perubahan budaya bersih tidak hanya bergantung pada imbauan, tetapi juga membutuhkan solusi teknis yang aplikatif. 

Dengan kombinasi kesadaran, keteladanan, kolaborasi, serta inovasi, Gerakan Indonesia ASRI diharapkan mampu menjadi fondasi terciptanya lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan, dimulai dari kantor lalu meluas ke masyarakat.

Terkini