Penggunaan Face Recognition KAI Tembus Ratusan Ribu Pelanggan

Jumat, 06 Februari 2026 | 12:18:48 WIB
Penggunaan Face Recognition KAI Tembus Ratusan Ribu Pelanggan

JAKARTA - Transformasi digital di sektor transportasi publik terus menunjukkan dampak nyata bagi efisiensi layanan. 

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat penggunaan teknologi face recognition atau pengenalan wajah semakin diminati pelanggan kereta api jarak jauh. 

Sepanjang Januari 2026, tercatat sebanyak 890.165 pelanggan memanfaatkan fitur pemindaian wajah saat proses boarding di stasiun keberangkatan.

Lonjakan pemanfaatan teknologi ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi yang praktis, cepat, dan minim hambatan administratif. 

KAI menilai digitalisasi menjadi bagian penting dalam menjawab ekspektasi pelanggan modern yang menginginkan pengalaman perjalanan lebih nyaman tanpa prosedur berbelit.

Face Recognition Jadi Solusi Praktis Pelanggan

Saat ini, layanan pengenalan wajah telah tersedia secara resmi di 22 stasiun utama yang melayani perjalanan kereta jarak jauh di berbagai wilayah Indonesia. Dengan teknologi tersebut, pelanggan tidak lagi diwajibkan menunjukkan tiket fisik maupun kartu identitas saat memasuki area boarding.

Proses verifikasi identitas dilakukan secara otomatis melalui pemindaian wajah, sehingga waktu antrean di pintu masuk stasiun dapat dipangkas secara signifikan. Inovasi ini dinilai sangat membantu pada jam-jam sibuk, terutama saat terjadi lonjakan penumpang di masa liburan maupun akhir pekan.

Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (Persero) Anne Purba menyampaikan bahwa layanan ini memberikan manfaat langsung bagi pelanggan maupun perusahaan. 

“Bagi pelanggan, face recognition memberikan kemudahan karena proses boarding menjadi lebih cepat dan sederhana. Dari sisi KAI, layanan ini membantu kami menjaga kelancaran operasional sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan,” ujar Anne.

Menurut manajemen, kehadiran sistem identifikasi biometrik juga mengurangi potensi kesalahan manual dalam pemeriksaan dokumen, sekaligus meningkatkan akurasi data penumpang yang tercatat dalam sistem KAI.

Efisiensi Operasional Dan Penghematan Biaya

Selain meningkatkan kenyamanan pelanggan, penerapan face recognition membawa dampak signifikan terhadap efisiensi operasional perusahaan. KAI mencatat implementasi sistem ini mampu memangkas biaya pencetakan tiket penumpang hingga 32,9 juta rupiah setiap bulan.

Penghematan tersebut berasal dari penurunan drastis penggunaan gulungan kertas pada area pintu keberangkatan. Dalam operasional konvensional, satu gulung kertas dengan panjang sekitar 7.200 centimeter biasanya digunakan untuk mencetak sekitar 400 lembar tiket.

Manajemen KAI juga menghitung secara rinci bahwa biaya pencetakan satu tiket memiliki nilai ekuivalen sekitar 37 rupiah per pelanggan. Dengan ratusan ribu pelanggan yang beralih ke sistem pemindaian wajah setiap bulan, efisiensi anggaran yang dihasilkan menjadi cukup signifikan dalam jangka panjang.

Digitalisasi ini juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap logistik fisik yang selama ini menjadi bagian dari proses operasional stasiun. Dengan sistem yang sepenuhnya terintegrasi secara digital, proses pelayanan dapat berjalan lebih stabil dan minim gangguan teknis.

Kontribusi Terhadap Keberlanjutan Lingkungan

Pengurangan penggunaan tiket kertas tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan. KAI menilai digitalisasi proses pemeriksaan penumpang berperan penting dalam menekan volume sampah kertas di stasiun-stasiun besar.

Langkah ini sejalan dengan strategi pengembangan transportasi publik modern yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan berkurangnya kebutuhan material fisik, emisi karbon dari proses produksi dan distribusi kertas juga dapat ditekan.

Executive Vice President Sekretaris Perusahaan KAI Wisnu Pramudya mengajak pelanggan untuk semakin memanfaatkan fasilitas tersebut. “Kami mengajak pelanggan untuk memanfaatkan fasilitas ini agar proses boarding berjalan lebih lancar dan perjalanan dapat dinikmati dengan lebih nyaman,” kata Wisnu.

Menurut KAI, kesadaran masyarakat untuk menggunakan layanan digital menjadi faktor kunci keberhasilan transformasi ini. Semakin banyak pelanggan yang beralih ke sistem non-kertas, semakin besar pula dampak positif yang dapat dirasakan dari sisi lingkungan dan operasional.

Perluasan Layanan Digital Di Stasiun Utama

Saat ini, sejumlah stasiun besar seperti Stasiun Bandung hingga Stasiun Surabaya Gubeng telah menyediakan fasilitas identifikasi biometrik bagi pelanggan kereta api jarak jauh. Kehadiran teknologi ini bertujuan meningkatkan efisiensi waktu antrean sebelum penumpang memasuki gerbong.

Manajemen KAI menyatakan bahwa pengembangan layanan berbasis digital akan terus dilakukan secara bertahap. Perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan pengalaman pelanggan melalui inovasi teknologi yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

Ke depan, KAI melihat digitalisasi bukan hanya sebagai alat efisiensi, tetapi juga sebagai fondasi utama pelayanan transportasi publik yang modern dan berkelanjutan. 

Dengan memanfaatkan teknologi cerdas, KAI berharap dapat memberikan pelayanan terbaik yang tetap memperhatikan aspek kenyamanan, keamanan, dan kelestarian lingkungan.

Transformasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya jangka panjang KAI dalam memperkuat perannya sebagai penyedia layanan transportasi nasional yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan perilaku pelanggan.

Terkini